TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Kopi TIMES

Islam dan Implikasinya Terhadap Modernisasi (Studi Globalisasi, Sosial and Cultural)

11/09/2019 - 09:47 | Views: 9.52k
Kukuh Santoso (Grafis: TIMES Indonesia)

TIMESJEMBER, MALANGMODERNISASI selalu melibatkan globalisasi dan berimplikasi pada perubahan tatanan sosial dan intelektual, karena dibarengi oleh masuknya budaya impor ke dalam masyarakat tersebut. Menurut Boeke, ketika budaya impor yang unsur-unsurnya lebih maju, berwatak kapitalis, berhadapan dengan budaya lokal yang berwatak tradisional, terjadi pergulatan antara budaya luar dengan budaya lokal.

Pertarungan kedua budaya tersebut tidak selalu berakhir dengan model antagonistik, tetapi unsur yang tersisih akhirnya tidak berfungsi dan digantikan oleh unsur baru yang kemungkinan besar dimenangkan oleh unsur impor. Biasanya, unsur lokal berangsur-angsur menurun dan tidak lagi diminati oleh masyarakat tradisional.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Selain masuknya budaya asing, globalisasi juga tidak bisa dilepaskan dari persoalan sekularisasi. Globalisasi dan sekularisasi seakan-akan merupakan satu paket yang terjadi di dunia Barat dan Timur. Konsekuensinya, ajaran dan dogmatisme agama, termasuk Islam, yang semula sakral sedikit demi sedikit mulai dibongkar oleh pemeluknya, yang pandangannya telah mengalami perkembangan mengikuti realitas zaman.

Agama pada dataran itu pun akhirnya menjadi profan, sehingga sangat tepat jika munculnya modernisasi seringkali dikaitkan dengan perubahan sosial, sebuah perubahan penting dari struktur sosial (pola-pola perilaku dan interaksi sosial).

Perubahan itu berbentuk, antara lain; perubahan tatanan hubungan tradisional antara masyarakat, pemerintah dan Agama, di mana masyarakat sakral-integralis, yang sebelumnya diatur oleh sistem-sistem religio-politik, bergerak menuju transformasi baru sebagai masyarakat pluralis non-sakral.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Dari kenyataan seperti itu, dalam era modern umat Islam sering dihadapkan pada sebuah tantangan, di antaranya adalah menjawab pertanyaan tentang di mana posisi Islam dalam kehidupan modern, serta bentuk Islam yang bagaimana yang harus ditampilkan guna menghadapi modernisasi dalam kehidupan publik, sosial, ekonomi, hukum, politik dan pemikiran.

Nabi Muhammad sendiri tidak menuntut pengikutnya untuk menjadi masyarakat yang harus merealisasikan semua ide Islam secara tepat, persis dengan yang ia lakukan. Jadi wajar jika terdapat perbedaan bentuk, antara Islam sekarang dengan Islam di masa lampau.

Hal semacam ini mendapatkan pengakuan dari Hallaq, yang menyatakan bahwa dalam bidang fikih misalnya, ajaran Islam tumbuh dan berkembang dalam bentuk yang berbeda dalam komunitas yang beragam.Itu artinya, meskipun Islam tumbuh dalam tradisi dan masyarakat bangsa Arab, setiap muslim tidak harus menterjemahkan Islam sesuai dengan yang diterapkan oleh bangsa Arab, akan tetapi menformulasikannya sesuai dengan kondisi sosial mereka.

Dari itulah dalam merespon modernisasi, umat Islam terbagi menjadi beberapa kelompok. Ada yang merespon secara berbalikan, yaitu dengan sikap anti modernisme dan pada akhirnya anti Barat. Ada yang menjadikan Barat sebagai kiblat dan role model dalam masa depan dan bahkan untuk way of life mereka. Kelompok ini memandang bahwa konsepsi tradisional memiliki kelemahan dalam menghadapi modernisasi.

Ada lagi kelompok ketiga yang bersikap kritis, namun tidak secara otomatis anti modernisasi dan anti Barat. Di mata kelompok yang disebutkan terakhir ini, modernisasi dimodifikasi sekiranya tidak bertentangan dengan hal-hal yang dianggap prinsip oleh mereka. Kelompok ketiga ini menganggap Barat tidak secara otomatis sebagai musuh, dan dalam waktu bersamaan tidak pula mengganggap Barat sebagai role model yang hebat dalam segalanya dan harus ditiru.

Bagi mereka, Barat mengandung unsur kebaikan, sehingga mereka tidak berkeberatan untuk menerimanya selama tidak harus mengorbankan agamanya. Dalam waktu bersamaan mereka juga sadar bahwa Barat harus disikapi dengan kritis, bahkan dalam batas tertentu harus ditolak.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Semua perbedaan sikap di atas, terjadi karena terjadi perbedaan antara ajaran ideal Islam dengan praktik yang terjadi di lapangan. Kedua permasalahan tersebut (the ideal and the practical) akhirnya menjadi sumber konflik di antara umat Islam di dunia ini. Sebagai contoh adalah bentuk ajaran dan konsep bernegara di Madinah pada masa Rasulullah, yang selalu menjadi utopia di kalangan umat Islam.

Dari cara pandang yang berbeda tersebut, di dunia Islam muncul berbagai macam bentuk pemikiran ideologis, antara kelompok yang memandang Islam sebagai model dari sebuah realitas (models of reality) dan kelompok yang memandang Islam sebagai model untuk sebuah realitas (models for reality).

Yang pertama mengisyaratkan bahwa Agama adalah representasi dari sebuah realitas, sementara yang kedua mengisyaratkan bahwa Agama merupakan konsep bagi realitas, seperti aktivitas manusia. Dalam pemahaman yang kedua ini Agama mencakup teori-teori, dogma atau doktrin bagi sebuah realitas.

Lalu sikap manakah yang paling tepat untuk menghadapi dunia yang serba modern ini? Apakah harus seperti yang dikatakan oleh salah seorang orientalis Jerman bahwa masa depan Islam hanya bisa eksis jika mau beradaptasi dengan kehidupan intelektual Eropa?

Jawabannya adalah bahwa kita tidak bisa menjadi religius dalam cara yang sama seperti para pendahulu kita di dunia pra modern yang konservatif. Betapapun kerasnya kita berusaha menerima dan melaksanakan warisan tradisi Agama pada masa keemasannya, kita memiliki kecenderungan alami untuk melihat kebenaran secara faktual, historis dan empiris. Baik konservatisme maupun modernisme, bukanlah pilihan yang tepat. Keduanya produk historis yang perlu dikaji ulang validitasnya. Artinya, semua tipologi pemikiran di atas tidak perlu ada yang disalahkan.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Apapun respon umat Islam terhadap modernisasi, yang jelas dalam dunia modern ini budaya Eropa Barat yang bersifat industrial sangat dominan, sementara budaya Islam menjadi terdominasi karena masih bersifat pre-industrial, sehingga banyak hal baru yang masuk ke dalam masyarakat Islam dan menimbulkan kecemasan, karena dampaknya pada kehidupan yang materialistis, unmoralis, dan sekuler. Maka manusia modern sekarang ini mulai merasakan kehampaan spiritual dan ingin kembali kepada agama. Seperti yang ditulis oleh Thoureau, bahwa kini banyak sekali orang yang hidup dalam keputus asaan.

Dalam kecemasan itu, umat beragama seringkali kemudian mencari bentuk format ajaran agamanya yang merujuk pada masa lampau untuk mendapatkan otentisitas keberagamaannya. Dalam tubuh umat Islam sendiri terjadi kekecewaan terhadap Islam yang menekankan aspek esoteris, yang hanya memuaskan segi kognitif, Islam yang mengenyirkan kening. Orang sekarang mencari Islam yang menyentuh secara afektif, Islam yang meneteskan air mata.

Akan tetapi manusia dan masyarakat tetap berjalan terus ke masa depan, dan di depan mereka dihadapkan pada kemajuan sains, wacana-wacana intelektual dan transaksi-transaksi rasional, yang semua itu harus disikapi dengan perubahan, sehingga terjadilah perdebatan panjang dalam masyarakat beragama, antara keinginan untuk kembali kepada masa lampau dengan keinginan untuk melakukan perubahan, antara keinginan untuk tetap mempertahankan tradisi masa lampau dengan keinginan untuk menyongsong masa depan. (*)

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

*)Penulis: Kukuh Santoso, M.Pd., Dosen FAI Unisma Malang dan ketua Takmir Masjid Ainul Yaqin Universitas Islam Malang

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Jurnalis :
Editor : AJP-5 Editor Team
Publisher : Sofyan Saqi Futaki
Copyright © 2019 TIMES Jember
Top

search Search