TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Kopi TIMES

Peran Da'i Berdakwah Melalui Media di Masa Pandemi Covid-19 

23/05/2020 - 01:26 | Views: 15.05k
Bobby H. Trilaksono, Mahasiswa Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Jakarta (Grafis: TIMES Indonesia)

TIMESJEMBER, JAKARTA – Wabah COVID-19 terus meluas di Indonesia yang menyebabkan jumlah ODP, PDP, positif terjangkit hingga meninggal dunia bertambah setiap harinya. Berdasarkan data yang tercantum di covid19.go.id per tanggal 13 Mei 2020 saat ini, jumlah pasien positif COVID-19 di Indonesia sendiri telah mencapai 14.749, jumlah meninggal 1007 kasus dan jumlah pasien sembuh 3063 orang. 

Angka tersebut tidak mungkin stagnan, bahkan pertumbuhannya akan semakin besar dan cepat seiring mulainya aktifitas mudik orang-orang dari daerah episentrum ke daerah masing-masing. Tentu saja, angka-angka yang tercatat kemungkinan besar belum menggambarkan kondisi sebenarnya, karena kemampuan deteksi yang belum optimal. 

Dibeberapa negarapun, pemerintahnya bahkan terkesan enggan transparan karena berbagai alasan, mulai kekhawatiran legitimasi pemerintah sampai perginya investasi.

Penyebaran penyakit Corono Virus Disease atau disingkat COVID-19 menunjukkan kesaling terhubungan yang makin erat seiring dengan globalisasi, memiliki resiko–resiko yang harus dikelola oleh pemerintah maupun individu diseluruh dunia.

Desentralisasi virus akan terjadi. Hal ini dapat menimbulkan keresahan beberapa kelompok masyarakat yang pro dibuatnya aturan resmi larangan mudik untuk mencegah penyebaran. Bahkan pemerintah daerah sendiri memperlihatkan gestur mulai “ketar-ketir” karena sudah menjadi beban yang menumpuk dalam menghadapi kasus dalam skala regional mereka. Harapan tidak akan pernah sia-sia. Apalagi harapan itu dilandasi upaya gigih untuk mewujudkannya.

*Bagaimana Wabah Corona dan perspektif Dunia Islam dalam mensikapi COVID19?

Pada zaman milenial sekarang ini, sebagaimana sudah dimaklumi mewabahnya COVID-19 ke seluruh dunia, sampai banyak Negara yang aspek perekonomiannya sudah melemah bahkan jatuh, sehingga tiada terkontrol dalam tindakan dan segala program menjadi terabaikan, juga karena rasa cemas dan takut yang mengancamnya dari penyakit tersebut. Bukan untuk memenuhi urasan sehari-hari bahkan urusan ibadahpun ada semacam lockdown, tidak perlu bila didaerah tersebut belum tertular penyakit tersebut. 

Malah Masjidil Haram di Mekah dan Madinah pun ditutup entah sampai kapan, bahkan diprediksi sampai bulan haji, sehingga ibadah haji tahun 1441 ini pun lock down. Memang penutupan ibadah haji dan atau umrah bukan hanya kali ini saja, tetapi sudah amat banyak terjadi sejak zaman Rasul Saw yang disebabkan kasus-kasus tertentu. 

Dalam sejarah umat manusia Nabi Muhammad Saw pernah menyampaikan, ketika seseorang mendengar ada wabah terjadi disuatu wilayah, maka janganlah ia masuk kewilayah tersebut dan jika berada di wilayah terjadi wabah, ia diminta meninggalkannya (Sahih Bukhari: 5728) artinya wabah merupakan kondisi yang secara berulang terjadi sepanjang sejarah.

Semua terjadi karena cemas, takut dan galau dalam menghadapi wabah yang menular ini. Manusia memiliki tabiat seperti itu. Maka amat tepat apa yang disebutkan dalam Alquran, An-Nisa/4: 28: “Wa khuliqal insanu Dhaifa...” Manusia itu lemah secara alam aspek apapun, mulai fisik dan psikis. Dengan tenaga yang terbatas karena umur tertentu, sekaligus secara psikis pun terpengaruh. Maka rasa takut seperti ini adalah “Sunnatullah” dan tidak mengenal agama, bangsa dan warna kulit.

Kemampuan Supply Chain di Daerah

Pada daerah-daerah dengan tingkat kerawanan tinggi perlu diberikan distribusi obat dan alkes termasuk APD lebih awal untuk mengurangi ketidakseimbangan dengan permintaan yang sangat mendesak dalam jumlah besar. Dengan demikian, tidak ada lagi dokter dan perawat yang hanya menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) ala kadarnya tanpa memperhatikan protokol WHO.

Selain sebagai instrumen manajemen bencana, manajemen rantai pasokan juga bertujuan untuk mempercepat pemerataan obat dan alat kesehatan ke daerah. MRP juga mampu meningkatkan konvergensi kualitas penangangan COVID-19 pada semua daerah dengan baik. Dengan demikian, MRP juga akan memiliki pengaruh yang signifikan dalam meningkatkan kecepatan konvergensi kualitas pelayanan kasus COVID-19 di semua daerah. 

Dalam hal ini, pemerintah daerah memiliki kewenangan untuk membuat kebijakan yang diarahkan untuk mengembangkan kompetensi daerah dalam menangani masalah COVID-19. Selain itu, MRP harus digunakan sebaik mungkin oleh pemerintah daerah dalam penanganan  COVID-19 karena daerah lah yang paling mengetahui, kebutuhan, kondisi, dan situasi pandemi COVID-19.

Ibarat perang, Manajemen Rantai Pasokan (supply chain management) yang disingkat MRP sangat menentukan kemenangan dalam pertempuran. Begitu juga, saat wabah COVID19 semakin meluas dan perang terbuka melawan corona sudah dimulai, maka manajemen supply chain sangat diperlukan. Dengan manajemen rantai pasokan yang bagus akan dapat menekan kesalahan manusia, distribusi, teknis, menekan biaya transportasi dan distribusi, serta menaikkan kualitas sampai tingkatan yang luar biasa. 

Dalam proses manajemen rantai pasokan saat perang melawan korona diperlukan pendekatan yang integral yang meliputi gudang penyimpanan, transportasi, inventory, pemesanan barang, dan jumlah barang. Bahkan untuk membangun sistem manajemen yang optimal perlu dilakukan perencanaan dengan matang, pemasokan, pembuatan (pabrikasi), pengantaran, dan pengembalian barang sortir.

Menyikapi realitas hidup secara wajar

Ajakan menyikapi realitas hidup secara wajar juga tengah dikemukakan dan dilakukan di banyak negara. Telebih, nyaris satu semester dunia menghadapi situasi yang berbeda sejak Covid-19 merebak ke seluruh dunia sejak pertama kali ditemukan di Wuhan, China akhir Desember 2019.

Menyikapi realitas hidup secara wajar ini yang oleh beberapa orang kemudian disebut dan populer sebagai normal baru (new normal). Normal baru itu terbentuk karena perubahan perilaku kita selama beberapa bulan terakhir. Studi menunjukkan, dibutuhkan rata-rata 66 hari untuk terbentuknya perilaku baru. Perilaku kita "terpaksa" berubah karena anjuran bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribada di rumah sejak 15 Maret 2020. 

Pekan-pekan ini adalah saat yang menentukan untuk ujian perubahan perilaku kita menyikapi Covid-19. Kesadaran kita untuk berubah karena nyatanya ancaman bisa menjadi motivasi tambahan dan mempercepat pembentukan perilaku baru. Apa perilaku atau kebiasaan baru hasil bentukan selama dua bulan terakhir selain berkemeja rapi tetapi pakai celana pendek untuk meeting rutin? Rajin cuci tangan dengan sabun dan air mengalir pasti. 

Menerapkan etika bersin atau batuk, memakai masker saat beraktivitas keluar rumah dan menjaga jarak saat berada di tempat publik semoga juga jadi kebiasaan barumu. Tidak hanya baik untuk dirimu, kebiasaan baru ini baik juga untuk orang lain.

Peran kita Sebelum menuju normal baru yang tampaknya masih berupa harapan, baik kalau kita mencatat dan mempraktikkan syaratnya. 

Tidak hanya pemerintah dan petugas yang punya tanggung jawab, tetapi kamu bisa ambil peran juga. Aktivitas kita akan normal di Juli jika tes masif dilakukan dan pelacakan agresifatas temuan dikerjakan sungguh-sungguh  di bulan Mei ini. Syarat lainnya, menjelang Idul Fitri 1441 H yang jatuh 24-25 Mei 2020, mudik tidak dilakukan. 

Kita perlu patuh dan disiplin. Petugas perlu tegas menindak pelanggaran kepatuhan dan kedisiplinan. Mulai 7 Mei 2020.  Meskipun di DKI Jakarta yang menjadi pusat penyebaran Covid-19 terjadi perlambatan pesat, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan meminta agar warga tidak terlena. Tetap patuh dan disiplin. Untuk meningkatkan kepatuhan dan kedisiplinan itu, DKI Jakarta menyediakan 20 juta masker. Tiap warga DKI Jakarta akan mendapat dua masker. Patuh dan disiplin pakai masker saat beraktivitas di luar rumah signifikan mencegah penularan Covid-19.

Tradisi dan budaya mudik kenapa masih banyak yang nekat dimasa pandemi dan melanggar aturan physical Distancing?

Hal bisa jadi ini wujud replikasi masyarakat atas sikap ambigu yang ditunjukkan pemerintah melalui media massa. Sejak awal COVID-19 ditetapkan sebagai pandemik global oleh WHO, pemerintah menunjukan sikap ambigu menanggapi hal tersebut. Bahkan di media sosial dibuat sebuah seremoni sekaligus konferensi pers atas kesembuhan pasien yang menegaskan COVID-19 memang tidak mematikan. 

Realitas inilah yang ditangkap oleh media massa dan teramplifikasi ke masyarakat. Pembelajaran masyarakat dari sikap ambigu pemerintah yang ditampilkan oleh media massa ini memiliki kesamaan dengan temuan penelitian Purwanto (2018). Penelitian tersebut menunjukan bahwa tindakan gaduh politikus yang ditayangkan media massa televisi turut menyuburkan perilaku gaduh di masyarakat. 

Kondisi ini sejalan dengan teori kultivasi yang digagas George Garbner (1976) dalam perspektif komunikasi massa. Singkatnya teori ini menjelaskan bahwa khalayak yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengkonsumsi media maka keyakinan dan pandangannya sama dengan realitas yang disampaikan oleh media tersebut. 

Hal ini terjadi karena pertama, di era konvergensi dan masyarakat informasi, setiap media terhubung. Terdapat media sosial yang cepat mengamplifikasi informasi, serta portal berita daring yang real-time dan mudah mendorong konsumsi masyarakat terkait COVID-19. Kedua media ini turut menyumbang transformasi informasi dan realitas penanganan COVID-19 di level pemerintah pusat ke masyarakat secara cepat dan berulang-ulang. 

Belum lagi tingginya frekuensi pemberitaan mitigasi COVID-19 melalui media konvensional seperti televisi. Alhasil terjadi resonansi dimana masyarakat melihat tanggapan santai pemerintah pusat tersebut lumrah. Gonta-ganti kebijakan dan saling bantah menjadi hal biasa yang sering disaksikan. Penganggapan COVID-19 sama dengan flu juga dianggap hal yang biasa. Karena bagi masyarakat Indonesia flu merupakan penyakit keseharian yang ringan dan tidak mematikan. 

Masyarakat belajar dari sikap yang ditampilkan pemerintah dalam merespon COVID-19 melalui media massa. Efek kultivasi ini bukan saja direpresentasikan dari puluhan ribu orang yang telah mudik, namun juga oleh orang-orang yang masih tetap nongkrong di kafe atau bar, tetap dilaksanakannya ibadah beramai-ramai, dan aktivitas berkerumun lainnya. Sejauh ini pemerintah telah bekerja keras melakukan mitigasi dengan mengerahkan seluruh sumber daya untuk melindungi dan menyembuhkan masyarakat.

Perlunya adanya penampakan simbol dan sikap yang jelas dan tegas pada media dalam penekanan aturan tersebut melalui semua jenis media massa secara intensif dan berulang, sementara media juga dapat memilih realitas dan fakta mana saja yang tepat disampaikan ke masyarakat.

Dalam kondisi sekarang, media saat ini sangat dibutuhkan untuk membantu khalayak Indonesia agar dapat bersikap tenang dan tidak cemas menghadapi isu Virus Corona. Diharapkan media dapat mengkultivasi khalayak dengan tidak memprovokasi pesan-pesan yang membuat masyarakat semakin cemas. Dalam salah satu teori komunikasi yaitu agenda setting menurut Mc.Combs dan Shaw, menjelaskan bahwa media massa memang memiliki kekuatan untuk mempengaruhi bahkan membentuk pola pikir audience yang terkena terpaan informasinya, apa yang dianggap penting media maka itu akan dianggap penting juga oleh khalayak.

Maka disini media dapat berfungsi sebagai pemutus kecemasan masyarakat terhadap isu Corona ini dengan pengemasan pesan yang lebih humanis dan persuasif.  Media harus mampu meyakinkan masyarakat Indonesia agar tidak takut, dan bersama-sama memerangi virus Corona, dan media diharapkan selalu memberikan pesan-pesan yang edukatif dalam menyikapi virus ini, sehingga dengan begitu akan mengurangi rasa cemas yang berlebihan yang akan mempengaruhi keadaan psikis khalayak.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi nilai berita itu menjadi menarik bagi khalayak, seperti yang dikatakan oleh Wilbur Schramm, beberapa faktor yang menentukan nilai berita diantaranya, proximity atau kedekatan berita dengan pembacanya mempengaruhi ketertarikan khalayak terhadap suatu berita, Actual yaitu berita sangat hangat dibicarakan, belum lama atau sedang terjadi, impact yaitu dampak suatu kejadian, seberapa banyak orang yang terkena dampak, seberapa luas, seberapa lama pula dampak tersebut dirasakan, semakin besar dampak suatu peristiwa maka akan semakin tinggi pula nilai beritanya.

Konvergensi Media Dakwah.

Konvergensi berasal dari kata bahasa Inggris yaitu “convergence” yang memiliki arti tindakan bertemu atau bersatu di suatu tempat, atau bisa diartikan juga pemusatan pandangan mata ke suatu tempat yang amat dekat. Media adalah sesuatu yang dapat digunakan sebagai sarana penghubung atau perantara dalam penyampaian informasi maupun penyampaian hiburan dari pengirim informasi kepada penerima informasi (komunikasi). 

Konvergensi Media adalah pengintegrasian atau penggabungan media – media yang ada untuk diarahkan dan digunakan ke dalam satu titik tujuan, dimana konvergensi media diakibatkan karena adanya perkembangan teknologi komunikasi digital yang menyebabkan efisiennya dengan adanya telepon, video, dan komunikasi data dalam suatu jaringan (konvergensi jaringan). 

Jadi dapat disimpulkan bahwa konvergensi media adalah fenomena bergabungnya berbagai media yang sebelumnya dianggap berbeda dan terpisah yang meliputi media cetak maupun media elektronik Menurut Preston  (2001), bahwa  konvergensi  media  memberikan  kesempatan  baru  dalam  penanganan, penyediaan, distribusi dan pemrosesan seluruh  informasi, baik yang bersifat visual, audio, data dan sebagainya.

Salah satu bentuk kebermanfaatan dari munculnya era korvergensi media ini adalah jurnalisme online.  Fenomena  jurnalisme  online  yang  dimanfaatkan  oleh media massa dalam menyajikan materi informasinya dalam  bentuk  on  line  sekarang  ini,  merupakan  contoh  menarik.  Di mana, khalayak selaku pengakses media alias pembaca, inggal meng-click informasi yang diinginkan di internet, dalam waktu sekejap ribuan informasi yang dicari pun akan mudah didapatkan.  

 Alhasil,  aplikasi  teknologi komunikasi  terbukti mampu  mem-by  pass  jalur transportasi pengiriman informasi  media kepada  khalayaknya. Di  sisi  lain, jurnalisme online juga memampukan para pemilik media untuk terus-menerus meng-update   informasi yang mereka tampilkan, seiring  dengan  adanya  informasi-informasi  baru di lapangan.

Kemudian secara teoritik, dengan munculnya media konvergen, maka sejumlah pengertian mendasar tentang komunikasi massa tradisional perlu diperdebatkan kembali.   

Karena konvergensi  menimbulkan perubahan signifikan dalam ciri-ciri komunikasi massa tradisional atau konvensional.  Media konvergen memadukan komunikasi massa  dan komunikasi antarpribadi dalam satu media sekaligus. Karenanya,    terjadi apa yang  disebut  sebagai  demasivikasi (demassification), yakni kondisi di mana ciri utama media massa yang menyebarkan informasi secara masif menjadi lenyap.  Arus informasi yang berlangsung pun menjadi makin personal, karena tiap    orang mempunyai  kebebasan  untuk  memilih  informasi  yang mereka butuhkan.

Dalam konteks yang lebih luas, konvergensi media sesungguhnya bukan saja memperlihatkan perkembangan teknologi yang cepat.  Konvergensi media telah berperan besar dalam mengubah hubungan antara teknologi dengan industri.  Lebih jauhnya  lagi, konvergensi  media  telah  menuntun  gaya  hidup  menjadi lebih praktis dan serba instan. 

Memang ada kekhawatiran dari munculnya konvergensi media ini.  Namun jika isinya betul-betul terjaga, terlebih lagi ada muatan dakwah yang pesannya sudah terbentuk dengan  rapih, minimal kekhawatiran akan efek negatif dari  konvergensi  media  ini tidak akan ada  lagi. Bahkan  sebagian kalangan merasa  aman,  pasalnya bahwa isi konvergensi media yang berorientasi dakwah, pada bagian tertentu akan mengamankan moral generasi muda, dan ini merupakan salah satu poin  penting yang  harus dipikirkan para da’i terhadap perkembangan dunia konvergensi media.

Dalam bubungan ini, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma'ruf Amin dalam beberapa kesempatan mengemukakan, gerakan dakwah melalui media massa harus dilakukan secara profesional dengan terus mengedepankan apa yang disebut "Islam Wasathiyah" (Islam moderat). Islam Wasathiyah adalah keislaman yang mengambil jalan tengah (tawassuth), berkeseimbangan (tawazun), lurus dan tegas (i'tidal), toleransi (tasamuh), egaliter (musawah), mengedepankan musyawarah (syura), berjiwa reformasi (islah), mendahulukan yang prioritas (aulawiyah), dinamis dan inovatif (tathawwur wa ibtikar), dan berkeadaban (tadhabbur).

Dakwah memang harus dilakukan secara profesional sebagaimana ucapan Ali bin Abi Thalib yang menyebutkan bahwa:  "Kebenaran yang tidak dikelola secara profesional akan dihancurkan oleh kebathilan yang dikelola secara profesional."

Kehadiran media, terlebih dalam era media konvergensi, suatu realitas yang tidak dapat dihindarkan. Media satu sisi dalam konteks penyebaran informasi sangat penting untuk instrumen dakwah, memberi pencerdasan dan pencerahan. 

Sebaliknya satu sisi yang lain, media menjadi suatu problem, seperti memunculkan realitas buatan yang berbenturan dengan persoalan moral. Ketika diperlukan sikap tabayyun, mengedepankan informasi yang benar, media sering memunculkan informasi tidak berdasar fakta, fitnah atau adu domba. Begitu pula, banyak informasi bernuansa ghibah, entertainment, semata hiburan yang jauh dari upaya mencerdaskan dan mencerahkan umat.

Tranformasi Peran Da’i di Masa Covid-19

Berbagai permasalahan dakwah telah memunculkan fakta bahwa profesionalisme seorang da’i dalam pengertian yang luas masih dipertanyakan. Da’i sebagai agent of change harus mempunyai visi, misi yang jelas, tidak saja menyangkut wawasan Islam yang utuh tapi juga visi menyeluruh tentang problem sosial, ekonomi, politik, budaya dalam mengarahkan umat Islam kepada suatu tatanan yang lebih mapan.

Pada saat ini pemerintah telah menetapkan PSBB (pembatasan sosial berskala besar), berbagai aktivitas dihentikan dengan meliburkan kampus, sekolah mulai dari SD-SMA, konferensi, tempat hiburan, wisata dll serta melakukan lockdown dibeberapa daerah tentu hal ini belum bisa mencegah penyebaran virus secara maksimal. 

Namun kemajuan pengembangan vaksin dilakukan dengan sangat cepat lantaran patogen virus corona yang dihadapi belum dapat dihilangkan jika hanya melalui tindakan pengendalian saja. Maka selama vaksin ini belum bisa digunakan secara masal maka virus ini masih menjadi problem darurat yang bisa dilakukan sebagi ikhtiar dengan memutus mata rantai penularan dan mengandalkan imun yang ada pada tubuh menjadi solusi. Dengan melakukan physical distance dengan isolasi diri serta mengikuti anjuran dokter.

Indonesia adalah mayoritas penduduknya beragama Islam sehingga memiliki peran yang cukup penting dalam memutus mata rantai penyebaran virus tersebut. Tentu disini yang memiliki peran yang sangat disegani dan lebih didengar oleh masyarakat adalah para ulama.

Ulama Menurut Imam Ghozali dalam kitab Ihya Ulum Ad-din memiliki kedudukan yang sangat mulia didalam Al-Quran sebagai kitab suci umat Islam. Mereka seperti penerang dalam kegelapan, juga sebagai pemimpin yang membawa petunjuk bagi umat Islam, yang dapat mencapai kedudukan al-akhyar (orang-orang yang penuh dengan kebaikan), dan derajat orang-orang yang bertakwa. 

Dalam kehidupan kesehariannya, ulama mempunyai peran yang sangat  penting di tengah kehidupan umat Islam, dan ulama juga bisa terus eksis sebagai ahli agama dengan posisinya yang terhormat.Ulama memiliki beberapa tugas  yang dijelaskan dalam buku yang dikarang oleh M. Quraish Sihab, yang berjudul  Membumikan al-Qur’an disitu disebutkan tugas ulama sebagai Warosatul ambiya (penerus para nabi) yakni:  

1. Menyampaikan ajaran sesuai dengan perintah Allah Swt. dan meninggalkan larangannya.

2. Menjelaskan ajaran Allah Swt berdasarkan Alquran.

3. Memutuskan perkara yang terjadi dimasyarakat.

4. Memberikan contoh pengalaman sebagai media dan contoh terhadap masyarakat.

Sehingga disinilah untuk mencegah penyebaran COVID-19, Ulama memiliki tanggung jawab untuk memberikan edukasi terhadap masyarakat untuk bisa bersama-sama mematuhi anjuran pemerintah untuk bersama mencegah penyebaran virus berbahaya berikut. Dengan mempertimbangkan keselamatan dan kesehatan umat. Sehingga wabah pagebluk ini saegera berakhir dan masyarakat besa kembali dalam aktifitas kesehariannya dengan aman.

Para da’i menyampaikan kepada masyarakat untuk mencegah kontak-kontak dengan orang yang diduga terpapar Corona sebagai pencegahan lebih lanjut. Karena itu juga, kenapa orang yang positif Virus Corona diisolasi.

"Ini seperti ajaran Rasulullah SAW, orang yang sakit jangan didekatkan atau didatangkan ke orang yang sehat, orang yang sehat jangan didekatkan oleh yang sakit, makanya diperlukan isolasi, makanya harus dijaga supaya tidak terjadi, masyarakat harus diberi tahu untuk menghindari kontak secara lansung." 

Para da’i maupun ulama dalam mendakwahkan di masa pandemi untuk mencegah kontak dengan para jamaahnya di tengah situasi wabah virus Corona tersebut dengan beberapa cara. Bahkan, ia mengungkap ada imbauan untuk salaman tidak menyentuh langsung. 

Bagaimana para da’i memberi contoh salaman yang mengatupkan kedua telapak tangan dan kalau ke masjid dikhawatirkan kalau sujud, itu bisa terjadi penyebaran virus, Jadi suruh bawa sajadah sendiri, supaya dia tidak terkena bekas orang lain. 

Fenomena kajian live streaming kira-kira terjadi dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. 

Telah dirintis oleh sejumlah komunitas kajian keislaman yang terbatas, kini merambah komunitas masyarakat yang aktif di dunia maya. Kepopuleran kajian live streaming menghasilkan sosok ustadz muda khas milenial, seperti Hannan Attaki, Taqy Malik sampai Evie Effendi. 

Beralihnya cara syiar agama rupanya bukan hanya cocok dengan kesan kekinian, tapi juga membuka segmen baru dakwah. Memanfaatkan teknologi untuk berdakwah, lantaran sudah menahbiskan diri sebagai influencer dakwah di media sosial, ketika pandemi virus Corona yang membatasi gerak serta berkumpulnya massa dakwah mereka tak terpengaruh. Perkembangan dakwah via live streaming di media sosial merupakan proses kemajuan syiar dakwah.

 "Ada atau tidaknya pandemi virus Corona sebenarnya tak terlalu berpengaruh pada tausiyah live streaming. Sebab pasti terjadi sebuah masa dimana salah satu ikhtiar membumikan Alquran dan Sunah Nabi melalui ajakan kebenaran, lewat berbagai media sosial melalui tausiyah live streaming," Pandemi virus corona, sebuah keadaan atau musibah yang menunjukkan pentingnya media baru dalam dakwah. Meski dituntut menjaga jarak atau physical distancing, tidak ada alasan bagi urusan dakwah atau mencari ilmu agama. 

"Dakwah bisa juga tetap berjalan tanpa terhalang pertemuan langsung, yang pada saat ini harus kita hindari, demi pencegahan dan kemaslahatan, sesuai anjuran Baginda Nabi Muhammad SAW.”Betapa sesungguhnya Allah Swt telah memberikan jalan keluar yang sangat revolusioner, hadirnya media digital dan media sosial menjadi penunjang dari sebuah hubungan antar manusia, media penghubung yang tak terbatas ruang dan waktu. Ini sangat bermanfaat di masa pandemi virus corona."

Fungsi dakwah sebagai penyebar pesan kebaikan bagi umat juga tampil maksimal dengan pemilihan tema sesuai dengan kondisi terkini. Pemilihan tema tentang kesabaran dan keikhlasan menghadapi musibah di tengah pandemi virus Corona dinilai paling tepat menjadi pilihan para pendakwah serta ulama. 

"Oleh karena itu tema-tema membangkitkan semangat ibadah dan semangat saling mencintai sesama, peduli sesama manusia juga penting. Tema memperbaiki diri dengan bertobat pada Allah, meningkatkan kualitas ketakwaan kepada Allah juga penting dalam menghadapi wabah Corona ini. 

Selain itu, juga perlu ada pembahasan masalah ikhtiar menghadapi wabah virus Corona baik yang terkait dengan ikhtiar kuratif (pengobatan) maupun preventif (pencegahan). Masyarakat, lanjutnya, juga perlu tema-tema yang menenangkan dan menyejukkan di tengah kecemasan menghadapi wabah Corona. (*)

***

*) Penulis: Bobby H. Trilaksono Adalah, Mahasiswa Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Jakarta.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

**) Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Jurnalis : Edy Junaedi Ds
Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Sofyan Saqi Futaki
Sumber : TIMES Indonesia
Copyright © 2020 TIMES Jember
Top

search Search