TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Gaya Hidup

Tokoh Peningkatan Status Kota Batu Sampaikan Pesan Lewat Lukisan

10/10/2019 - 23:17 | Views: 4.68k
Slamet Henkus, tokoh peningkatan status Kota Batu yang menggelar pameran lukisan lanskap beraliran Nio Mooi Indie. (FOTO: Muhammad Dhani Rahman/TIMES Indonesia) 

TIMESJEMBER, BATU – Ada pesan di balik sembilan karya lukisan Lanskap yang dipamerkan oleh Slamet Hendro Kusumo, seniman yang juga tokoh peningkatan status Kota Batu di Galery Raos, Kota Batu. 

Pesan lewat seni lukis Nio Mooi Indie, sebuah aliran lukis yang berkembang di Hindia Belanda abad 19 ini, Henkus, panggilan akrab laki-laki ini, menyampaikan pesan untuk Indonesia dan Kota Batu yang berulang tahun 17 Oktober 2019 ini. 

Slamet-Henkus-2.jpg

Begitu masuk, kita akan melihat foto yang terpasang di dinding. Ada foto saat ini dan ada foto kondisi lingkungan tempo dulu. 

Dari foto inilah kemudian dikembangkan oleh Henkus menjadi lukisan lanskap menggambarkan kondisi nyata tempo dahulu. 

Seperti lukisan berjudul Belantara menggambarkan kondisi lingkungan salah satu sudut di Kota Batu. Dari foto yang ada, terlihat hanya ada rumpun bambu, dalam lukisan Henkus menggambar beberapa tumbuhan dan satwa yang dahulu pernah ada, namun kini sudah hilang. 

"Tema lanskap in diambil dari optik saya, artinya apa yang saya lihat. Saya mengambil beberapa foto, seperti semak, pohon, batu, dari itu mulai saya rekonstruksi, menjadi sebuah karya baru," ujar Henkus. 

Seniman asli Kelurahan Sisir ini mengatakan bahwa visi dari lukisan lanskap ini, ia ingin mengingat di masa lalu ada surga yang hilang. 

Surga yang hilang ini adalah, hutan dengan pohon pohon purba, semak-semak yang kaya sisi kehidupan manusia dengan pemberian oksigennya. 

Slamet-Henkus-3.jpg

Lewat pesan ini, ia ingin mengingatkan agar kesadaran pelestarian alam harus dibangkitkan lewat pemikiran bahwa alam sebagai sandaran hidup dan alam adalah berkah dari Tuhan. 

Pesan yang sama lewat lukisan, juga disampaikan untuk Pemerintah Kota Batu. "Pemikiran kami dengan teman-teman (Saat berjuang meningkatkan status Kota Batu dari Kota administratif menjadi Kota), kita inginkan kota bernuansa desa, bukan metropolis," ujar Henkus. 

Menurutnya ada tiga hal penting yang harus dijaga di Kota Batu. Pertama alam, kedua udara yang sejuk, ketiga di Kota Batu ada beberapa daerah yang bisa ditanami tanaman tropis dan sub tropis

"Sehingga kekayaan alam yang luar biasa ini harus dijaga, kalau sekarang kita mengarah pada masyarakat jasa kita akan kehilangan artefak," kata Henkus. 

Artefak yang dimaksud adalah artefak kebudayaan, di mana pada masyarakat jasa mengarah pada materialistik bukan pada identitas wilayah itu sendiri. 

Ia berharap di Kota Batu yang hanya 40 persen daerah produktifnya harus dijaga dan ditata. "Investasi di Kota Batu sudah waktunya berhenti, sudah selesai agar tidak menambah benturan sosial dan ekonomi," kata Henkus. 

Caranya adalah seperti di tagline Wali Kota Batu, yakni Desa Berdaya dan Kota Berjaya. "Itu (Desa Berdaya dan Kota Berjaya) muatan lokal yang menjadi soko guru artinya pas, hanya saja saya melihat tagline wali kota ini belum punya pondasi yang kuat," ujar Henkus. 

Karena hingga kini, ia belum melihat kendaraan apa yang akan dipakai. "Apakah insfrastruktur, atau gabungan infrastruktur dan suprastruktur, akhirnya Tagline ini berhenti pada slogan belum pada implementasi," katanya. 

Itulah pesan dibalik sembilan karya lukisan Lanskap Slamet Hendro Kusumo, seniman yang juga tokoh peningkatan status Kota Batu di Galery Raos, Kota Batu.  (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Jurnalis : Muhammad Dhani Rahman
Editor : Faizal R Arief
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan
Sumber : TIMES Batu
Copyright © 2019 TIMES Jember
Top

search Search